Minggu, 15 Juli 2012

Tempat Mangkal Pelacur Cowok di Bandung


Tidak semua orang bisa sepakat tentang yang satu ini, ada yang menolak tegas, ada yang ”mendukung” ada pula yang cuma diam.Kalangan penentang biasanya dari para penjaga moral (agamawan) sedangkan kaum ”pendukung” bisa jadi pelanggan atau orang yang di untungkan secara materi dengan adanya praktek ini. Sedangkan orang yang diam di wakili oleh mereka yang memang dasarnya pendiam(lugu).

Di kota kembang ada beberapa lokasi yang sering di jadikan tempat mangkal para pelacur ”cowok”. Mereka aslinya cowok tapi dandanannya cewek banget. Kadang malah lebih cantik dari cewek betulan. Kalo di lihat dari monas pake teropong hihihi.mereka para penjaja cinta ”petir” itu biasa beroperasi pada malam hari sampai pagi menjelang. Siapakah pelanggan mereka? Yang jelas laki-laki yang tidak bisa membedakan apa itu cowok dan apa itu cewek atau bisa jadi laki-laki yang suka laki-laki lagi.

Beberapa tahun silam ketika masih nguli di Bandung saya sempat melewati lokasi-lokasi di mana para pelacur itu mangkal.

Kebanyak mereka dandanannya menor banget, pake rok mini dan pakaian ketat hingga lekuk tubuhnya terlihat jelas.

Ada yang bawa semacam kipas ada pula yang bawa tas, jangan salah lo banyak barang berbahaya di tas mereka. Saya pernah membaca surat kabar lokal terbitan Bandung, seorang pelanggan di ancam pake pisau oleh seorang pelacur pria karena tidak mampu membayar setelah di service, kebayang enggak? Jadi jangan sekali macem-macem dengan mereka. Pernah suatu ketika teman menggoda mereka tiba-tiba ada sesuatu yang melayang ke arah kami.

Kerasnya kehidupan telah memaksa mereka terjun kedunia gelap tampa cahaya.sayangnya saya belum melihat upaya pemerintah kota Bandung untuk mentertibkan mereka. Minimal kasih kek mereka kerjaan lain yang lebih bermartabat.

Kota Bandung terkenal dengan slogan Bandung bermartabat jadi enggak mecing banget kalo fenomena pelacur pria seperti ini di biarkan.

Oya, di mana mereka biasa mangkal?

Kalo saya tuliskan di sini saya takutnya anda penasaran kepengen dateng kesana jadi maafkan saya tak bisa menuliskan tempatnya. Tapi bagi warga Bandung tempat itu sudah tidak asing lagi.

Jadi kepengen tahu ngapain aja mereka kalo siang? Menurut beberapa informasi ada di antara mereka yang kerja di salon kecantikan ada pula yang menggunakan waktu siang dengan tidur sepanjang hari mungkin agar nanti pas ”dines malem” badan terasa segar.

Motif ekonomi menjadi alasan utama mengapa para pelacur ini rela mengahabiskan malam di temani oleh nyamuk-nyamuk yang nakal.

sekarang ini bisa jadi ladang pencarian mereka semakin sempit, setelah lokalisasi saritem di tutup oleh pak Dada Rosada di sinyalir tidak semua penghuni lokalisasi yang pulang kampung ada sebagian dari mereka yang terjun menjemput bola. Mangkalnya di mana lagi kalo enggak di jalan-jalan. Lokalisasi berfungsi menahan para pelacur agar tidak meluber ke jalan.

Selain di jalan para pelacur juga mangkal di diskotik dan tempat hiburan malam lainnya. Mereka ini bisa di tandai oleh para pekerja diskotik. Siapa sih yang tiap malam menyempatkan diri ke diskotik kalo bukan pelacur? Apalagi tiap malam gonta-ganti cowok.

Saya percaya bisnis ini sulit di matikan tapi paling tidak bisa di minimalisir.

Apa kita semua mau kalo FPI yang turun tangan memberantas mereka.


   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar